Wisata & Budaya
29 Juni 2010, 11:30:57| Laporan AZ. Alim
Bagian 1Bukti Perjuangan Arek Suroboyo
suarasurabaya.net| Perjalanan bangsa ini menyisakan catatan-catatan sejarah masa lalunya. Tidak serta-merta negeri ini berdiri gagah seperti adanya sekarang. Semua tahu bila negeri ini harus berkorban banyak hal, mulai nyawa hingga harta, untuk mendapatkan kedaulatannya.
Surabaya, sudah mahfum orang kenal, sebagai Kota Pahlawan. Pertempuran hidup dan mati mempertahankan tiap jengkal tanah, pernah terjadi di kota ini. Begitu banyak jiwa para pejuang menjadi korban. Bahkan, pembumihangusan kota oleh para pejuang pun pernah dilakukan.
Menghormati dan menghargai jasa para pahlawan adalah upaya kita untuk menjadi bangsa yang besar. Mengenang rekaman masa perjuangan melalui Monumen-monumen salah satu caranya. Seonggok karya tanpa nyawa, jadikan sebagai bukti bahwa kita tetap perduli sejarah masa lalu bangsa.
Monumen Bambu Runcing
Berdiri tegak membelah arus lalulintas kota yang melintas di Jalan Panglima Sudirman. Monumen berbentuk Lima batang Bambu Runcing, merupakan simbolisasi patriotisme Arek-arek Suroboyo dimasa perjuangan membela Tanah Air. Kegigihan mereka dalam melawan penjajah didorong semangat perjuangan yang berkobar, walau dengan senjata alakadarnya yang salah satunya berupa sebilah bambu yang diruncingkan pada salah satu sisinya.
Monumen Jend. Sudirman
Patung Jenderal Sudirman terletak di Jalan.Yos Sudarso, menghadap ke Selatan, membelakangi Gedung Balai Kota Surabaya. Konon monumen ini dibangun sebagai penghormatan atas jasa dari tokoh perjuangan itu, yang inisiatifnya berasal dari Letnan Jenderal M.Yasin, ketika itu menjabat Panglima VII Brawijaya. Jenderal Sudirman dikenal pula sebagai tokoh besar Revolusi, semangat dan pengabdiannya bagi negeri ini, diharapkan mengalir dari generasi ke generasi.
Monumen Mayangkara
Mayor Djarot Soebyantoro, adalah komandan Batalyon 503 Mayangkara. Batalyon inilah yang mampu menyusup masuk ke jantung Kota Surabaya. Penyusupan berangsur yang dilakukan sejak April 1949, secara samar, kemudian pada 12 Juli 1949 konon dilakukan lebih mengarah pada sasaran. Misi penyusupan ini salah satunya untuk menegaskan batas-batas daerah kekuasan antara Belanda dan Republik Indonesia, setelah terjadi gencatan senjata usai perang. Sebagai penghormatan atas keberanian maka didirikan Monumen Mayangkara, di depan RSI Wonokromo.
Monumen Jalesveva Jayamahe
Monumen Jalesveva Jayamahe berdiri gagah di ujung Utara Kota Surabaya. Menggambarkan sosok Perwira TNI Angkatan Laut berpakaian PDU-1 lengkap dengan pedang kehormatannya. Sang prajurit menatap ke arah laut berdiri di atas bangunan gedung dengan ketinggian total lebih dari 60 meter. Monumen ini menggambarkan generasi penerus yang penuh yakin dan sungguh-sungguh siap menerjang ombak badai menuju cita-cita bangsa Indonesia.
Foto-foto: Anton Kusnanto/ M-Comm
Artikel terkait : 1. Bagian 2Bukti Perjuangan Arek Suroboyo