Wisata & Budaya
08 Juli 2010, 16:31:16| Laporan AZ. Alim
Taman Nasional BaluranNuansa Savana Afrika di Ujung Jawa
suarasurabaya.net|
Eksotisme padang savana, terbesar yang paling mirip dengan iklim di benua Afrika. Proyeksi menjadikan Taman Nasional Ekowisata, namun kondisi dilematis menyelimuti. Bertahan dari ancaman agar tetap menjadi kekayaan alami negeri.
Lokasinya berada di ujung Tenggara pulau Jawa, masih termasuk wilayah kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Taman Nasional Baluran, adalah satu-satunya kawasan yang memiliki padang savana terluas di pulau Jawa. Hamparan rumput kering dengan suhu panas, yang konon merupakan replika dari savana tropik yang ada di benua Afrika. Luasnya sekitar 10 ribu hektar atau lebih kurang 40% dari luas keseluruhan kawasan tersebut.
Kawasan Baluran memiliki ekosistem yang cukup lengkap, mulai dari hutan Mangrove, hutan Rawa, hutan Savana dan hutan Musim dataran tinggi dan dataran rendah. Memasuki kawasan itu dari pintu utamanya di desa Batangan akan diawali dengan melintasi hutan musim dataran tinggi. Rimbunan pepohonan di sana yang selalu hijau sepanjang tahun, hutan demikian lebih dikenal dengan istilah evergreen forest. 12 kilometer lagi harus ditempuh sebelum mencapai hamparan savana alami yang ada di Bekol.
Layaknya menyusuri alam pegunungan, suasana alami hutan sangat terasa. Aroma dedaunan, wangi tanah lembab tercium tatkala melintas di hutan yang hijau sepanjang musim itu. Pemandangan menarik lain sepanjang perjalanan menuju Bekol, selain dapat dijumpai beragam pohon alami yang tumbuh liar, dapat ditemui pula fauna yang juga liar hidup dikawasan seluas 25.000 Ha itu.
Taman Nasional Baluran koordinatnya berada di posisi 114° 18' - 114° 27' Bujur Timur dan 7° 45' - 7° 57' Lintang Selatan. Dari keseluruhan luasnya, 3.750 Ha berupa wilayah perairan. Taman Nasional Baluran ada di ujung Timur pulau Jawa. Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Madura, sebelah Timur berbatasan dengan Selat Bali. Sementara di sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Bajulmati dan sebelah Baratnya berbatasan dengan Sungai Kelokoran.
"Sejak jaman Belanda status Baluran adalah Suaka Marga Satwa. Berkembang menjadi Taman Nasional mulai tahun 1975, setelah adanya konfrensi internasional mengenai konservasi di New Delhi, India. Kemudian Indonesia turut mengadopsi strategi konservasi yang telah diterapkan seluruh dunia, implikasinya di antaranya adalah pengembangan taman Nasional di tanah air. Di antaranya Baluran, Bali Barat, Bromo-Tengger, Rinjani hingga Telaga Warna, dan Gunung Mutis di NTT" jelas Dr. Ir. Dodi Supriadi, Mappl Sc. Pria 53 tahun yang sempat dijumpai M-Comm ketika membimbing mahasiswanya di Taman Nasional Baluran, kala itu. Baluran resmi ditetapkan sebagai Taman Nasional berdasarkan surat keputusan Menteri Pertanian no. 736/Mentan/X/1982 tanggal 14 Oktober 1982.
Menurut Dodi, dia termasuk yang ditugaskan melakukan riset dalam merancang konsep konservasi di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, dahulu Dirjen Kehutanan saat masih di bawah Departemen Pertanian Indonesia, bersama FAO-PBB bekerja sama mengupayakan kawasan konservasi di Indonesia. Pelaksanaan itu merupakan komitmen Indonesia terhadap dunia dalam kontek konservasi. Dimana salah satu strategi yang diambil adalah dengan mengembangkan kawasan yang kemudian dikenal dengan sebutan Protected Areas.
Di Indonesia sebenarnya masih ada beberapa savana lagi, namun potensi satwanya tidak seperti di Baluran, konon savana Baluran dianggap identik dengan savana yang ada di Afrika.
Konsep Ekowisata
Iklim di Baluran secara umum bertipe Monsoon yang dipengaruhi angin Timur kering. Dari data curah hujannya berkisar antara 900 - 1600 mm/tahun, dimana bulan kering per tahun rata-rata 9 bulan. Sementara sekitar bulan Agustus sampai dengan Desember biasanya bertiup angin cukup kencang dari arah Selatan. Di bagian tengah kawasan ini terdapat Gunung Baluran yang tidak aktif. Sementara di bagian pinggir dari kawasan ini terdapat hutan Jati, yang biasa dikenal sebagai kawasan penyanggah.
Dari awal, Baluran sudah menyimpan potensi satwa yang sangat beragam. Seperti Banteng, Rusa, Kerbau, Babi Hutan, Merak dan Ajag bahkan Ayam Hutan. Dan sekarang binatang-binatang besar itu terus mengalami penurunan jumlah. Dulu penyebab penurunannya dianggap karena adanya persaingan dengan binatang sejenis dalam satu kawasan.
"Tapi saya punya teori, penurunan itu timbul karena masuknya binatang luar ke dalam kawasan yang kemungkinan juga membawa penyakit. Bisa dilihat sendiri di sebelah Barat tampak sapi piaraan penduduk yang masuk mencari makan ke dalam kawasan. Dulu jumlahnya sekitar 200 -an, sekarang mungkin bisa lebih" sergah Dodi. Kemudian penyebab lain adalah perburuan liar, yang masih sering kali terjadi. Sementara flora sendiri tentu saja tumbuhan yang tahan hidup di iklim savana yang kering. Ini didominasi oleh tanaman-tanaman seperti Mimbo, Asam, Akasia, dan beragam tanaman lain tipe daerah kering.
Kans untuk menjadikan Taman Nasional menjadi sebuah obyek wisata tentu saja ada. Di antaranya melalui konsep Ekowisata. Kendalanya menurut Dodi, "Kita sering kali tidak disiplin!". Dia menggambarkan ketika pertama kali merancang kawasan tersebut. Untuk pengunjung sudah diberikan jalur khusus. Agar mereka tidak melintas ke mana-mana, terlebih ke dalam area yang dilarang untuk dijamah. Harapannya agar keaslian alam bisa terjaga.
Tapi karena ketidakdisiplinan itu potensi dan keunikan alam yang ada tidak bisa dipertahankan, bahkan cenderung rusak. Kesulitan dalam mengendalikan pengunjung ini pula yang menjadi dilema dalam upaya menjadikan taman nasional sebagai lokasi wisata.
Menurut pria yang mengaku mulai menangani upaya konservasi sejak 1989 ini, "Menjadikan taman nasional sebagai lokasi wisata sah saja, namun harus tetap dengan aturan main tertentu. Jadi desainnya harus dibuat sedemikian rupa agar tidak rusak karena adanya pengunjung". Harus ada aturan tertentu, semua pengunjung harus dibuat memahami kondisi di sana. Jadi selain orientasi wisatanya dapat, upaya perlindungannya juga kena. Menurutnya itu adalah tugas dari interpreter atau pemandunya.
Pemerintah Propinsi Jawa Timur telah menetapkan Peraturan Daerah Nomor 16 tahun 1998 tentang Rencana Induk Pengembangan Pariwisata. Kandungan pokok dari Perda tersebut adalah bahwa industri pariwisata Jawa Timur diharapkan menjadi bisnis strategis yang dapat menumbuhkan multiplier effect berupa bisnis yang padat investasi dan padat pemanfaatan tenaga kerja.
Pemerintah Kabupaten Situbondo sendiri dengan intensif mengupayakan pengembangan kawasan terpadunya, walaupun harus berhadapan dengan dilema tadi. Pada tahun 2000 jumlah kunjungan ke Taman Nasional Baluran adalah sebanyak 6.091orang. 5.853 wisatawan nusantara dan 238 wisatawan mancanegara. Konon pengembangan ekowisata tersebut juga melibatkan unsur pendidikan.
Savana Bekol tempat yang paling banyak dikunjungi mereka yang memasuki kawasan Taman Nasional Baluran. Karena lokasi ini adalah savana yang paling mudah dicapai. Di Bekol terdapat menara pandang di puncak bukit Bekol yang berketinggian 64 m dari permukaan laut, dari menara ini dapat dilihat berbagai jenis satwa seperti Merak, Ayam hutan, Banteng, Kerbau liar, Rusa, Kijang, Babi Hutan, di pagi dan sore hari. Pemandangan yang indah di sekitar kawasan Baluran juga dapat dinikmati dari sana.
Fasilitas lain yang ada di Bekol adalah 3 buah pesanggrahan berkapasitas 28 orang, musholla, pos jaga petugas jagawana dan beberapa bagunan lain yang konon juga digunakan untuk tempat riset. Sementara untuk makanan, dianjurkan untuk membawa bekal sendiri yang cukup sebelum datang dan berada di tengah-tengah taman nasional.
Ancaman
Tumbuhan khas Baluran adalah pohon Widoro Bekol (Zizyphus rotundifolia), tumbuhan lainnya seperti Asam (Tamarindus indica), Gadung (Dioscorea hispida), Pilang (Acacia leucophloea), Kemiri (Sterculia foetida), Gebang (Corypha utan), Talok (Grewia sp), Walikukun (Schoutenia ovata), Mimbo (Azadirachta indica), Kesambi (Schleicera oleosa), Lontar (Borassus sp) dan lain-lain.
Menurut petugas di sana, saat ini savana Baluran juga mengalami penurunan kualitas karena terinvasi oleh tumbuhan akasia (Acacia nilotica), tumbuhan ini mengganggu pertumbuhan rumput pakan satwa. Akasia sendiri bukan tumbuhan asli daerah tersebut. Sejauh ini berbagai upaya pemberantasan telah dilakukan, namun di areal yang terbebas dari akasia kemudian ditumbuhi tumbuhan gulma yang tidak disukai satwa herbivora.
Selain itu juga berbagai jenis rumput yang hanya dapat dijumpai pada musim penghujan hingga awal musim kemarau. Rumput adalah jenis yang dominan di savana, di antara jenisnya adalah Lamuran (Arundinella setosa Trin), Merakan (Apluda nutica L), Alang-alang (Imperata cylindrica), Lamuran putih (Dichantium caricosum), Luluwan (Setaria palmifolia), Padi-padian (Shorgum nitidum) dan banyak lainnya. Berbagai jenis rumput-rumputan tersebut merupakan pakan herbivora liar yang ada di kawasan, terutama banteng, rusa dan kerbau liar.
Di kawasan ini terdapat lebih dari 150 jenis burung. Yang termasuk langka di antaranya Walet ekor jarum (Hirundapus caudacutus). Selain itu juga dapat dijumpai Tulung tumpuk (Megalaima javaensis), endemik Jawa Bali seperti Jalak abu (Sturnus melanopterus) dan Raja udang (Halcyon cyanoventris). Di daerah ini juga terdapat Ayam hutan (Gallus spp.) dan Burung merak (Pavo muticus).
Ketika tim liputan M-Comm turun merambah savana Baluran sempat dikejutkan kawanan Rusa (Cervus timorensis). Dengan instingnya yang masih liar kawanan rusa tersebut sangat sulit didekati. Konon, dua tahun silam ketika dilakukan sensus satwa yang ada dengan sistem zona, tidak kurang dari 700 ekor rusa hidup di sana, entah sekarang. Menurut salah seorang Jagawana, rusa termasuk salah satu hewan yang diburu oleh pemburu liar selain Banteng dan Kerbau.
Dari pengalaman, dulunya para pemburu liar itu setelah berhasil merobohkan hewan-hewan tersebut masih meninggalkan bekas buruan. Seperti kepala hewan buruannya, namun belakangan mereka tidak lagi menyisakan bekas sedikitpun. Hal ini juga yang menjadi salah satu keprihatinan pengelola. Selain menggunakan senapan atau perangkap, yang lebih tragis pemburu liar itu menggunakan racun yang biasanya dimasukkan ke tempat-tempat minum hewan yang sengaja disediakan.
Binatang mamalia besar yang merupakan satwa langka sekaligus dijadikan maskot Taman Nasional Baluran adalah Banteng (Bos javanicus). Kemudian ada juga Anjing hutan/Ajag (Cuon alpinus), Babi hutan (Sus sp), Kijang (Muntiacus muntjak), Macan tutul (Panthera pardus ), Macan kumbang (Felis pardus), Kerbau liar (Bubalus bubalis), Lutung (Presbytis cristata), Kera abu-abu yang berekor panjang (Macaca fascicularis), dan lain-lain.
Diawal orientasinya, Baluran merupakan satu kesatuan dengan kawasan Maelang, sekitar Jember, dan Meru Betiri di bagian selatan kabupaten Banyuwangi. Baluran bagian utara memiliki potensi savana dengan beragam satwanya. Kemudian daerah Maelang, yang rencananya dijadikan taman burung. Jadi, dari pantai utara terus ke selatan.
Mulanya ketiga kawasan ini dijadikan satu karena Macan Jawa yang ada di Merubetiri hunting area-nya hingga di Baluran. Dalam perkembangannya kawasan ini menjadi terputus di kawasan Maelang. Entah daerah Maelang sekarang menjadi apa, yang pasti tidak seperti proyeksinya semula. "Dalam istilah ekologi disebut dengan fragmentasi habitat, sehingga yang terjadi kawanan Macan Jawa tersebut terputus dari sumber makanannya di Baluran" papar Dodi, yang mantan Sekjen Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Departemen Kehutanan.
Otomatis Macan-macan itu sekarang hanya tertampung di kawasan Meru Betiri.
Alasan lain menurut Dodi, ternyata kawasan Meru Betiri tidak cukup menampung pertumbuhan jumlah Macan Jawa tersebut. Sehingga akhirnya populasi macan itu menjadi menurun dan menurun hingga sekarang kita tidak tahu yang tersisa berapa. Dodi yakin Macan Jawa tersebut sekarang sudah punah, itu perkiraannya, namun menurutnya masih membutuhkan riset untuk membuktikan. Pada tahun 1978 dia pernah menemukan jejak yang ukurannya diatas 17 Cm, menurutnya itu jejak Macan Loreng. Itu satu-satunya jejak yang ditemukan, setelahnya tidak ditemukan lagi.
Asumsinya populasi Macan Jawa sekarang sudah habis. Pertama dari sisi kapasitas kawasannya tidak mencukupi. Macan mempunyai cruise radius 100 m persegi, sementara Merubetiri sendiri luasnya hanya 50 sampai 75 ribu hektar. Belum lagi gangguan-gangguan yang mungkin terjadi di sana. Jadi lengkap sudah alasan kenapa Macan Jawa itu diyakini sudah punah. Kenyataan ini menurutnya menuntut kita untuk lebih konsentrasi dan tidak setengah hati dalam menangani hal konservasi.
Baluran sekarang telah berdiri sendiri dengan segala potensi keanekaragaman alaminya. Konon macan Tutul dan macan Kumbang masih ada di sana. Kenyataan-kenyataan yang ada sekarang turut menumbuhkan kekhawatiran. Jangan sampai yang masih tersisa turut musnah. Tim M-Comm meninggalkan kawasan taman nasional Baluran tepat menjelang malam. Pesona savana Afrika -nya pulau Jawa masih terasa walau dengan menyisakan pertanyaan besar, bagaimana eksistensinya kelak?
Foto-foto: dok. M-Comm
Artikel terkait : 1. Serbuan Kera di Baluran