Wisata & Budaya
21 Juli 2010, 11:03:13| Laporan Chusnul Mubasyirin
Kidung Cinta, Ludruk Kota
suarasurabaya.net|
Ludruk setia mengawal sejarah bangsa ini. Tapi keberadaan grup ludruk timbul tenggelam seiring dominasi budaya modern yang kian terus menjerat eksistensi.
Meski nasib ludruk bukan lagi menjadi hiburan unggulan masyarakat, diam-diam ludruk di daerah terus menakar eksistensi. Selain rutin melakukan pementasan dalam berbagai acara perhetalan di daerah, mereka pun secara rutin tampil di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) atau di Kampung Seni Taman Hiburan Rakyat. Setiap bulan, secara bergantian kelompok ludruk itu menampilkan karya, setidaknya dua sampai tiga kali.
Namun, keberadaan ludruk kini tak lagi seperti dulu. Publik yang mengapreasi pentas ludruk juga mengalami ambigu. Ludruk yang berkembang sejak sekira tahun 1985 hingga sekarang, tidak sama dengan 1980-an atau tahun-tahun sebelumnya. Pada perkembangannya, ludruk yang berkembang dulu kebanyakan adalah ludruk tobong atau tunilan. Istilah tobong untuk menggambarkan, setiap pertunjukan ludruk lokasinya dikelilingi seng dan penonton harus membayar tiket masuk untuk dapat menikmatinya.
Di Surabaya, kata Hengki Kusuma, pegiat seni ludruk dari Dewan Kesenian Surabaya, dulu ada banyak ludruk tobong. Menyebut beberapa yang paling terkenal, antara lain Kopasgat, Sarimurni dan Baru Budi. Kelompok ludruk ini sering nobong di Pulo Wonokromo. Sering pula di lapangan Pacar Keling dan Gedung Kalibokor Surabaya.
Lokasi pementasannya memang berpindah-pindah, tergantung selera pasar. Saat itu, kata Hengky, ludruk tobong sangat berjaya. Dalam semalam, bisa mendapat hasil hingga Rp 2 juta. Angka ini sangat mengesankan, untuk ukuran saat itu. “Seingat saya, ludruk Kopasgat pernah menembus angka Rp 3 juta semalam,” ungkap pelaku ludruk RRI Surabaya.
Sekali nobong, sebuah kelompok ludruk bisa menetap hingga tiga bulan di suatu tempat. Kalau melebihi waktu tiga bulan, pementasan ludruk itu sudah jarang didatangi pengunjung. Bila sudah demikian, mau tidak mau kelompok ludruk tobong harus mencari tempat baru. “Dan biasanya mereka memilih pindah ke luar kota,” imbuhnya.
Karenanya, ludruk tobong lambat laun mulai kehilangan stamina. Satu persatu berguguran, dan berganti dengan munculnya ludruk teropan atau tanggapan. Namun, ludruk tobong tak hilang sama sekali. Ada sebuah catatan menyebutkan, pada 1994, kelompok ludruk keliling tinggal 14 grup saja. Mereka main di desa-desa yang belum mempunyai listrik dengan tiket Rp 350. Grup ini didukung oleh 50–60 orang pemain. Penghasilan mereka sangat minim antara Rp 1500 – Rp 2500 per orang per malam. Bila pertunjukan sepi, terpaksa mengambil uang kas untuk biaya makan di desa.
Hingga kini, menurut catatan Hengky, masih ada sekitar enam ludruk tobong di Jawa Timur. Sebut misalnya, Irama Budaya (Surabaya), Mandala (Mojokerto), Satriya Manggala (Pare Kediri), Mamik Jaya (Trenggalek), Bangkit Budaya (Madiun), dan sebuah kelompok ludruk di Tulungagung.
Dialektika
Sementara itu, ludruk terop mengalami booming pada 1985. Ludruk terop artinya sebuah kelompok ludruk yang pentas berdasar pesanan. Misalnya pada acara perkawinan, sunatan, sedekah bumi, ulang tahun, atau agustusan. Mereka biasanya memiliki sekretariat di daerah tertentu, dan baru pentas kalau ada pesanan tanggapan.
Namun, jangan disangka ludruk sudah ditelan zaman. Untuk beberapa kasus, mungkin ya. Tapi, pada kasus lain kita akan disentakkan betapa jam terbang mereka tercatat luar biasa. Mereka bisa mengadakan pementasan hingga lebih dari 150 kali dalam setahun. Suatu angka yang fantastis!
Hengky sempat merangking kelompok-kelompok ludruk paling laris di Jawa Timur, berdasar jumlah tanggapannya. Kelompok ludruk itu diantaranya; ludruk Karya Budaya (Mojokerto), Budhi Wijaya (Mojokerto), Mustika Jaya (Jombang), Karya baru (Mojokerto), dan Putra Wijaya (Jombang).
Berdasar penelusuran M-Comm ke kelompok-kelompok ludruk itu, tak bisa dielakkan bahwa kelompok ludruk itu dikelola cukup profesional. Manajemennya rapi, dan propertinya lengkap. Plus tentu saja para pemainnya adalah seniman ludruk yang sudah mumpuni. Mereka juga mengadakan perubahan di beberapa bagian, meski tak merombak pakem ludruk seperti dimulai dari remo, dilanjutkan lawakan dan gending jula-juli, dan cerita.
Kelompok ludruk tersebut juga berani mematok harga yang lumayan tinggi. Rata-rata biaya yang mesti dikeluarkan untuk sekali penampilan mereka antara Rp 6 juta – Rp 7 juta. Namun, dengan harga yang dipatok itu bukan berarti tanggapan kelompok ludruk ini menurun. Berdasar penuturan para ketua ludruk itu, mengapa masyarakat masih menggandrungi ludruk karena beberapa keistimewaan yang dimiliki.
Ada yang memiliki pemain andalan pada lawakannya, ada pula yang mengandalkan remo dan tandaknya. Dan dengan harga yang dipatok itu, si pemesan tahu beres karena semua perlengkapan properti sudah disediakan kelompok ludruk. Dengan kelengkapan seperti itu, mereka justru banyak belajar untuk menata setting panggung, lighting, tata suara dan sebagainya. Semakin apik garapannya, makin menarik ludruk yang pentas.
Foto-foto: dok. M-Comm
Artikel terkait : 1. Ludruk Mengawal Jaman